Mitra Edukasi Budaya

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Komik: Membentuk Jati Diri Bangsa melalui Pemberdayaan Karakter Komik Nasional

Komik, menurut definisi KBBI (2008) adalah cerita bergambar (di majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna dan lucu. Selain merupakan cerita bergambar yang bersifat lucu dan menghibur, komik pun merupakan salah satu media penyampaian pesan yang dapat mudah diterima oleh seluruh kalangan masyarakat dari berbagai tingkat umur dan pendidikan.

Di Indonesia, cikal bakal komik banyak dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu, dan Islam. Salah satu indikatornya bisa ditemukan di dalam Goa Leang-leng di Sulawesi Selatan. Di sana terdapat gambar babi hutan yang bisa mengindikasikan tentang adanya pola komunikasi melalui gambar bagi masyarakat pada waktu itu. Pada candi Borobudur dan Prambanan juga terdapat relief yang menceritakan kehidupan spiritual serta kebudayaan masyarakat kita pada abad pertengahan. Penampakan gambar pada candi-candi tadi juga bisa dijadikan sebagai referensi timbulnya komik Indonesia.

Cerita bergambar pertama kali terbit di Indonesia sejalan dengan munculnya media massa berbahasa Melayu Cina di masa pendudukan Belanda. Cerita bergambar berjudul “Put On” karya Kho Wan Gie di tahun 1930 pada harian “Sin Po” adalah salah satu komik pertama di Indonesia dan menjadi pelopor komik-komik humor di negeri ini.

Pada tahun 1953, komik Indonesia memasuki awal masa keemasan dengan terbitnya komik berjudul “Sri Asih” karangan R.A. Kosasih dan komik “Nina Putri Rimba” karya Johnlo yang muncul secara bersamaan. Sri Asih adalah tokoh superhero yang diadopsi dari komik “Wonder Woman”. Sedangkan Nina adalah tokoh semacam Tarzan perempuan. Komik “Sri Asih” sering dianggap sebagai tonggak awal perkembangan komik berbentuk buku di Indonesia, sehingga R.A. Kosasih didapuk sebagai “Bapak Komik Indonesia”. Nama R.A. Kosasih pun semakin bersinar setelah ia dianggap sebagai komikus yang berhasil membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik.

Masa keemasan dan kebangkitan kedua komik Indonesia berlangsung pada tahun 1980. Hal itu ditandai dengan banyaknya ragam dan judul komik yang muncul. Komik yang populer pada waktu itu adalah komik bertema petualangan pendekar-pendekar silat dan superhero, misalnya Si Buta dari Gua Hantu, Siluman serigala Putih, Tuan Tanah Kedaung, Si Djampang, Panji Tengkorak, Godam, Gundala, dan lain-lain.

Lalu bagaimana perkembangan komik Indonesia di masa sekarang? Pada awal tahun 90an, dunia komik Indonesia sempat mengalami mati suri disertai dengan masuknya dominasi komik-komik Jepang (manga) di Indonesia. Sekarang, anak- anak dan remaja Indonesia lebih mengenal komik hasil karya seniman-seniman Jepang daripada komikus dalam negeri. Mereka menggemari komik Jepang karena kualitas cerita dan formatnya sangat menarik, bahkan bisa mengalahkan komik ala Walt Disney’s Amerika di pasaran. Toko-toko dan tempat penyewaan buku dipenuhi cerita bergambar impor dari Negeri Matahari Terbit itu. Hal ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat menggeser dominasi komik asing dan mengembalikan kejayaan komik asli Indonesia. Pengembangan komik karya anak bangsa diperlukan tidak hanya agar menjadi tuan di negeri sendiri, tetapi juga diperlukan untuk pendidikan dalam pembentukan jati diri generasi muda Indonesia dan kemudian diharapkan dapat menjadi salah satu media yang dapat mempromosikan Indonesia di dunia internasional. Sehubungan dengan hal tersebut, Mitra Edukasi Budaya berinisiatif mengadakan workshop komik dengan rangkaian roadshow keliling Indonesia untuk menumbuhkan dan membangkitkan kembali semangat dalam berkarya dan mencintai komik asli karya anak bangsa.

Payung.. Payung.. Yung.. Di Bawah Payungku..

ImagePayung. Jika saya sebut kata payung, apa yang ada di benakmu? Goyang Umbrella a la Rihanna? Band indie sungguh layak diapresiasi bernama Payung Teduh? Jamur payung? Payung (yang saya rasa lebih tepat jika disebut kanopi) di halaman kampus? Atau payung besar identik berwarna pelangi yang membuat rintik hujan pun seolah terbias ceria? Payung. Apapun dia, kita semua tahu tentang benda bernama payung.

Payung. Benda mungil remeh temeh itu punya cerita besar.

Ternyata sebelum era modern ini, payung sudah tenar walau membahananya belum cetar. Jika kita lihat serial TV tentang sejarah Nusantara, payung nyatanya nangkring dengan manis di sisi singgasana raja, meski saya tahu itu tetap saja cerita fiksi. Lebih jauh lagi, di film China pun, lagi-lagi fiksi, ditunjukkan bahwa dinasti pendahulunya juga telah menggunakan payung. Di negeri itu pula, payung-payung dilukis dengan cantik di atas kertas khusus. Canggih sekali pada zamannya. Begitu pula di Mesir dan Eropa. Mengingat bahan dan desainnya yang eksklusif, pada zaman dahulu, payung hanya digunakan oleh kelas menengah atas. Mereka yang berada di kelas ekonomi bawah terbiasa hanya menggunakan tudung kepala jika kehujanan. Tidak jarang muncul jokes mengenai hal tersebut, misalnya, “Were I a rich man, I would bear my house about me!”. Selain itu, payung juga identik dengan perempuan. Hal ini terjadi karena payung yang merupakan sebagai salah satu pendukung fashion dan pengguna payung biasanya memang perempuan (kalau bukan petinggi di suatu wilayah) yang katanya butuh ‘perlindungan’. Dapat disimpulkan bahwa, payung tidak hanya bermanfaat untuk melindungi diri dari panas dan hujan, tetapi juga dimaknai sebagai simbol gender dan status sosial.

Lalu bagaimana di negeri ini?

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa mulanya payung hanya digunakan oleh kalangan tertentu saja. Rakyat jelata terbiasa kehujanan. Ditempa alam. Dalam arti harfiah dan ironi sekaligus. Bahkan sampai saat ini bukan? Namun, seiring berjalannya waktu, produk budaya bernama payung ini, seperti yang lainnya, diproduksi secara massal, sehingga memungkinkan siapapun kini memiliki payung. Kaya atau menengah atau miskin. Perempuan atau lelaki atau lainnya.

Manusia memang pandai dalam modifikasi segala sesuatu. Produk budaya adalah perluasan dari jawaban manusia atas kebutuhan. Bentuk dan penggunaan payung kini semakin beragam. Salah satu yang menarik, dan saya rasa ini benar-benar aseli Indonesia adalah fenomena: ‘ojek payung’.

Jika kehujanan sewaktu akan pulang dari tempat umum di Jakarta rasanya kita tak perlu khawatir. Ojek payung bertebaran di manapun. Lucu jika dilihat dari kejauhan. Seperti serbuan semut berhelm. Tarif yang bisa dinego, antar-jemput oleh ‘supir ojek’ dari dan sampai tempat kering, dan cengiran para ‘supir’ tersebut yang rasanya sangat kontras dengan kerutan kulit biru mereka akibat dinginnya hujan, membuat kita memiliki kesan tertentu tentang ojek payung. Tidak akan saya bicarakan lebih lanjut soal ojek payung yang merupakan contoh jelas kesenjangan sosial bangsa ini. Saya lebih tertarik mencupliknya dari sudut lain.

Ringkasnya, saya meninjau begini. Ojek payung hadir karena banyak orang membutuhkan payung. Orang yang membutuhkan payung itu adalah orang-orang yang lupa membawa payung sebelum hujan. Orang-orang yang kurang waspada terhadap perubahan, baik kecil – misalnya hujan – maupun besar. Banyakkah di Indonesia? Banyak. Buktinya masih banyak yang memanfaatkan jasa ojek payung, kan? Sebagian masyarakat rupanya memang terbiasa kurang mempersiapkan terjadinya banyak kemungkinan di waktu mendatang. Bangsa ini terbiasa terlena pada suatu sikon tertentu. Dalam konteks yang lebih besar, minimnya kesiapan dan kesigapan masyarakat terhadap zaman yang dinamis tercermin melalui kreativitas dan inovasi yang cenderung berjalan lamban. 

Ojek payung ini adalah jasa yang menurut saya super resiko, super murah, sekaligus super mulia. Jelas beresiko bagi para ‘supir’ yang terancam froze-bite karena harus berlari tanpa alas kaki mencari pelanggan. Super murah karena biayanya tidak ada yang lebih dari lima ribu rupiah. Dan super mulia adalah di mana lagi kita temukan orang yang mau sedikit berbagi teduh di tengah hujan besar? Hangat sekali yaa masyarakat kita? Bahkan di kala kesulitan pun, dengan biaya yang sangat kecil, rela menolong dan berbagi hangat. Saya membacanya demikian. Terserah sih jika kamu justru membacanya sebagai ironi “Segitu susahnya yaa cari duit di Jakarta..”.

Yang jelas, bangsa ini seharusnya dapat secara lebih sadar mengenali potensi dan tantangan yang dihadapi. Semua dapat disiasati dengan akal budi kita dan yang terekam dalam segala kearifan lokal. Begitulah realita kota. Yang dibutuhkan adalah inovasi tanpa harus membunuh arti. Ambil saja contoh tersohornya sewa sepeda onthel di Kota Tua. Mungkin dengan pengelolaan lebih layak, modifikasi di sana-sini, ‘ojek payung’ bisa menjadi satu-satunya di dunia. Saya setia menantikan keunikan ini ditulis dalam buku panduan wisata dan literatur lain mengenai Indonesia. Saya rasa, kita sudah menang satu kartu. Belum ada peribahasa ‘sedia payung sebelum hujan’ dan kata ‘ojek payung’ dalam bahasa lain, kan?

Workshop dan Pameran Desain Hias Poci Teh Indonesia

Budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang meliputi seluruh aspek-aspek kehidupan manusia. Salah satu budaya yang sangat dengan kita adalah budaya minum teh. Bagi masyarakat Indonesia, minum teh merupakan suatu kebiasaan yang sudah ada semenjak zaman dahulu kala. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil teh. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia sudah menjadi negeri penghasil teh sejak zaman penjajahan.

Kebun-kebun teh di Indonesia sangatlah banyak, tersebar di beberapa pulau, seperti pulau Jawa dan Sumatera. Luas tanah yang dijadikan kebun teh di Indonesia berjumlah 120.000 hektare dengan total produksi sekitar 150 ribu ton per tahun. Sekitar separuhnya, yaitu 75 ribu ton menjadi komoditi ekspor ke luar negeri.

Dalam budaya minum teh, ada piranti yang menemani, seperti misalnya poci teh, yang terbuat dari tanah liat. Kebiasaan minum teh menggunakan poci teh ini berasal dari daerah Tegal. Teh diseduh di dalam poci dan ditambah dengan gula batu, kemudian diminum panas-panas. Poci teh ini sendiri sangat terkenal di daerah Tegal, Slawi, dan Brebes.

flyer fix

Untuk meningkatkan promosi teh, Mitra Edukasi Budaya merencanakan untuk mengadakan “Workshop Desain Hias Poci Teh dan Pameran Teh Poci Indonesia“. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi generasi muda untuk mencintai budaya minum teh melalui kecantikan desain poci teh.

Acara ini akan diadakan pada tanggal 23 Maret 2013 untuk Workshop dan bertempat di Museum Monas, Jakarta. Untuk info lebih lanjut, follow akun twitter kami di @EdukasiBudaya atau add Facebook Page kami Edukasi Budaya.

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Jonge_vrouw_die_terugkomt_van_de_markt_met_koopwaar_op_de_rug_TMnr_10005196Kebanyakan masyarakat berpikiran bahwa jamu adalah obat tradisional dengan rasa yang pahit, sehingga masyarakat cenderung memilih untuk meminum obat modern yang mengandung bahan-bahan kimia dikarenakan lebih praktis dan tidak perlu merasakan rasa pahit seperti ketika meminum jamu. Namun pikiran seperti ini harus didekonstruksi dan ditanamkan pemahaman baru bahwa jamu tidak selalu memiliki rasa pahit, jamu pun dapat dinikmati dengan berbagai macam cara dan rasa yang dapat memanjakan lidah anda.

Seiring dengan kemajuan teknologi, beberapa perusahaan jamu di Indonesia telah memanfaatkan teknologi modern untuk memodifikasi jamu menjadi suatu bentuk yang lebih praktis, menghilangkan rasa pahit namun tetap mempertahankan unsur-unsur herbal dalam jamu.

Upaya untuk mendekonstruksi pola pikir ini telah dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM yaitu dengan memodifikasi aneka herbal untuk membuat jamu dengan es krim[1]. Inovasi ini merupakan terobosan yang harus dimanfaatkan untuk melestarikan budaya tradisional sekaligus menjadikannya sebagai peluang tumbuh bagi industri ekonomi kreatif di Indonesia.

Herbatic (es krim jamu) mengganti bahan dasar es krim yang umumnya menggunakan lemak hewani seperti susu sapi dengan sari kacang merah yang kemudian dikombinasikan dengan jamu-jamuan, oleh karena itu es krim ini cocok bagi pengidap diabetes, orang yang alergi susu sapi, vegetarian, penggemar jamu serta orang yang ingin melakukan diet rendah lemak. Kacang merah dan jamu-jamuan mengandung indeks glikemik yang sangat rendah yaitu 22 – 32 sehingga aman untuk penderita diabetes karena tidak membuat gula darah cepat naik.

Selain es krim jamu, masih banyak lagi hasil inovasi lainnya seperti roti kering jahe, permen jamu, dll. Roti kering jahe merupakan makanan sehat yang terbuat dari Zingiber Officinale dalam bahasa latin atau lebih familiar dikenal dengan jahe. Mengkonsumsi jahe secara tradisional tidak banyak orang suka karena rasa pedas ketika memakannya, oleh karena itu dengan mengolahnya menjadi makanan kering orang akan bisa mengkonsumsi “roti jamu” dengan lebih mudah. Nah, ternyata jamu tidak selamanya pahit kan? Dengan mengkombinasikannya bersama ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jamu tidak hanya sekedar ramuan herbal yang menyehatkan, tetapi juga nikmat di lidah anda J

Salam Bilogai, “Minum Susu Saya” Sebuah Tanda Kasih Sayang

Bilogai adalah salah satu kampung di distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Bilogai terletak di wilayah pegunungan tengah. Ada sesuatu yang menarik di daerah ini, yaitu bagaimana cara masyarakat setempat bersalaman dan bertegur sapa. Berikut ini adalah cara bersalaman dan bertegur sapa ala masyarakat Bilogai :

Apabila yang bersalaman adalah pria dan wanita, maka jari telunjuk dan tengah pria ditekuk berada dalam posisi yang ‘mengapit atau menjepit’ sedangkan yang jari telunjuk wanita ditekuk dan berada di antara jari telunjuk dan tengah pria. Kemudian masing-masing menarik jari mereka hingga muncul bunyi ‘klik’. Dilanjutkan dengan berjabat tangan.

Ketika bertemu dan memulai salam dalam jarak dekat, ada kalimat yang harus diucapkan yaitu:

Amakane Artepamakane (Minum Susu Saya)

Selain itu ada juga salam yang dilakukan dalam jarak jauh, caranya adalah dengan gesture telapak tangan menghadap keatas dan jari-jari tangan digerakan ke dalam dan keluar, seperti dalam posisi untuk mengajak seseorang agar mendekat ke kita. Kemudian mencubit dada sendiri seraya tersenyum. Cubitan di dada ini pun bermakna sama dengan ‘Amakane Artepamakane’ yang berarti ‘Minum Susu Saya’ hanya saja berhubung jaraknya jauh, jadi dilakukan dengan bantuan bahasa tubuh. Lawan yang berada di jarak yang jauh akan merespon dengan gesture yang sama.

Minum susu saya merupakan sebuah ungkapan kasih sayang yang sangat luar biasa dan jabat tangan merupakan tanda persaudaraan, antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.

Makna dari salam “Minum Susu Saya” ini berasal dari kasih sayang seorang Ibu kepada Anaknya yang tulus dan tidak terbatas disimbolkan melalui ASI (Air Susu Ibu) yang merupakan sumber awal kehidupan seorang anak. Hal ini kemudian diadaptasi oleh masyarakat Bilogai dalam bentuk salam yang menunjukkan rasa kasih sayang dan persahabatan persaudaaraan yang kuat laksana seorang Ibu kepada Anaknya.

Salam Bilogai adalah salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, salah satu ragam budaya yang memiliki makna dan nilai-nilai luhur yang harus kita resapi dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan apabila semua masyarakat Indonesia dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai ini, indah bukan?🙂

Coba lihat video ini untuk lebih jelasnya!

 

 

Minum Teh?

teh-pociTeh. Siapa yang tidak kenal dengan minuman bernama teh? Dengan menjamurnya kafe-kafe sekarang, kita mengenal berbagai macam teh, seperti teh earl grey, darjeeling, dan sebagainya. Ada juga yang dikenal dengan teh tarik yang berasal dari Malaysia. Di beberapa negara, seperti di Jepang dan Korea Selatan, ada upacara minum teh yang nilainya sakral. Di negara-negara Eropa, ada yang disebut sebagai waktu minum teh, yaitu biasanya ketika sore hari. Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia, tradisi minum teh dapat dikatakan berbeda dengan negara-negara yang telah disebutkan. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, seperti faktor iklim. Tapi kita tetap mengenal keberadaan teh sejak zaman dahulu. Perkebunan-perkebunan teh pun sudah ada ketika zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Dimulai ketika teh dibawa masuk ke Indonesia pada tahun 1684 dan kemudian dijadikan salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat ketika pemberlakuan politik tanam paksa.

Salah satu teh yang terkenal adalah teh poci, yaitu teh yang diseduh di dalam poci atau cerek kecil dari tanah liat. Biasanya teh ini ditambah dengan gula batu. Teh poci dikenal di daerah Jawa Tengah, seperti Tegal, Slawi, Brebes, dan Pemalang. Teh yang digunakan adalah jenis teh hijau melati yang mempunyai aroma yang khas. Penggunaan poci dalam menyeduh teh pun punya keunikan tersendiri, yaitu poci yang digunakan biasanya tidak pernah dicuci tetapi cukup dibuang saja sisa tehnya. Hal ini dikarenakan kerak sisa teh tadi dipercaya dapat menambah cita rasa dan aroma teh poci semakin enak. Selain teh poci, kita juga sekarang mengenal teh celup yang praktis, karena tinggal mencelupkan kantong celup ke dalam air panas. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda salah seorang yang menyukai teh?