Mitra Edukasi Budaya

Home » Uncategorized » Payung.. Payung.. Yung.. Di Bawah Payungku..

Payung.. Payung.. Yung.. Di Bawah Payungku..

ImagePayung. Jika saya sebut kata payung, apa yang ada di benakmu? Goyang Umbrella a la Rihanna? Band indie sungguh layak diapresiasi bernama Payung Teduh? Jamur payung? Payung (yang saya rasa lebih tepat jika disebut kanopi) di halaman kampus? Atau payung besar identik berwarna pelangi yang membuat rintik hujan pun seolah terbias ceria? Payung. Apapun dia, kita semua tahu tentang benda bernama payung.

Payung. Benda mungil remeh temeh itu punya cerita besar.

Ternyata sebelum era modern ini, payung sudah tenar walau membahananya belum cetar. Jika kita lihat serial TV tentang sejarah Nusantara, payung nyatanya nangkring dengan manis di sisi singgasana raja, meski saya tahu itu tetap saja cerita fiksi. Lebih jauh lagi, di film China pun, lagi-lagi fiksi, ditunjukkan bahwa dinasti pendahulunya juga telah menggunakan payung. Di negeri itu pula, payung-payung dilukis dengan cantik di atas kertas khusus. Canggih sekali pada zamannya. Begitu pula di Mesir dan Eropa. Mengingat bahan dan desainnya yang eksklusif, pada zaman dahulu, payung hanya digunakan oleh kelas menengah atas. Mereka yang berada di kelas ekonomi bawah terbiasa hanya menggunakan tudung kepala jika kehujanan. Tidak jarang muncul jokes mengenai hal tersebut, misalnya, “Were I a rich man, I would bear my house about me!”. Selain itu, payung juga identik dengan perempuan. Hal ini terjadi karena payung yang merupakan sebagai salah satu pendukung fashion dan pengguna payung biasanya memang perempuan (kalau bukan petinggi di suatu wilayah) yang katanya butuh ‘perlindungan’. Dapat disimpulkan bahwa, payung tidak hanya bermanfaat untuk melindungi diri dari panas dan hujan, tetapi juga dimaknai sebagai simbol gender dan status sosial.

Lalu bagaimana di negeri ini?

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa mulanya payung hanya digunakan oleh kalangan tertentu saja. Rakyat jelata terbiasa kehujanan. Ditempa alam. Dalam arti harfiah dan ironi sekaligus. Bahkan sampai saat ini bukan? Namun, seiring berjalannya waktu, produk budaya bernama payung ini, seperti yang lainnya, diproduksi secara massal, sehingga memungkinkan siapapun kini memiliki payung. Kaya atau menengah atau miskin. Perempuan atau lelaki atau lainnya.

Manusia memang pandai dalam modifikasi segala sesuatu. Produk budaya adalah perluasan dari jawaban manusia atas kebutuhan. Bentuk dan penggunaan payung kini semakin beragam. Salah satu yang menarik, dan saya rasa ini benar-benar aseli Indonesia adalah fenomena: ‘ojek payung’.

Jika kehujanan sewaktu akan pulang dari tempat umum di Jakarta rasanya kita tak perlu khawatir. Ojek payung bertebaran di manapun. Lucu jika dilihat dari kejauhan. Seperti serbuan semut berhelm. Tarif yang bisa dinego, antar-jemput oleh ‘supir ojek’ dari dan sampai tempat kering, dan cengiran para ‘supir’ tersebut yang rasanya sangat kontras dengan kerutan kulit biru mereka akibat dinginnya hujan, membuat kita memiliki kesan tertentu tentang ojek payung. Tidak akan saya bicarakan lebih lanjut soal ojek payung yang merupakan contoh jelas kesenjangan sosial bangsa ini. Saya lebih tertarik mencupliknya dari sudut lain.

Ringkasnya, saya meninjau begini. Ojek payung hadir karena banyak orang membutuhkan payung. Orang yang membutuhkan payung itu adalah orang-orang yang lupa membawa payung sebelum hujan. Orang-orang yang kurang waspada terhadap perubahan, baik kecil – misalnya hujan – maupun besar. Banyakkah di Indonesia? Banyak. Buktinya masih banyak yang memanfaatkan jasa ojek payung, kan? Sebagian masyarakat rupanya memang terbiasa kurang mempersiapkan terjadinya banyak kemungkinan di waktu mendatang. Bangsa ini terbiasa terlena pada suatu sikon tertentu. Dalam konteks yang lebih besar, minimnya kesiapan dan kesigapan masyarakat terhadap zaman yang dinamis tercermin melalui kreativitas dan inovasi yang cenderung berjalan lamban. 

Ojek payung ini adalah jasa yang menurut saya super resiko, super murah, sekaligus super mulia. Jelas beresiko bagi para ‘supir’ yang terancam froze-bite karena harus berlari tanpa alas kaki mencari pelanggan. Super murah karena biayanya tidak ada yang lebih dari lima ribu rupiah. Dan super mulia adalah di mana lagi kita temukan orang yang mau sedikit berbagi teduh di tengah hujan besar? Hangat sekali yaa masyarakat kita? Bahkan di kala kesulitan pun, dengan biaya yang sangat kecil, rela menolong dan berbagi hangat. Saya membacanya demikian. Terserah sih jika kamu justru membacanya sebagai ironi “Segitu susahnya yaa cari duit di Jakarta..”.

Yang jelas, bangsa ini seharusnya dapat secara lebih sadar mengenali potensi dan tantangan yang dihadapi. Semua dapat disiasati dengan akal budi kita dan yang terekam dalam segala kearifan lokal. Begitulah realita kota. Yang dibutuhkan adalah inovasi tanpa harus membunuh arti. Ambil saja contoh tersohornya sewa sepeda onthel di Kota Tua. Mungkin dengan pengelolaan lebih layak, modifikasi di sana-sini, ‘ojek payung’ bisa menjadi satu-satunya di dunia. Saya setia menantikan keunikan ini ditulis dalam buku panduan wisata dan literatur lain mengenai Indonesia. Saya rasa, kita sudah menang satu kartu. Belum ada peribahasa ‘sedia payung sebelum hujan’ dan kata ‘ojek payung’ dalam bahasa lain, kan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

February 2013
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  
%d bloggers like this: